Tukang Rangin Yang Makin Terpinggirkan

Sedang mengaduk adonan




 Sebelum melanjutkan perjalanan ke Bogor kami sekeluarga singgah dulu sebentar di Kost bapaknya di daerah Utan Kayu, buat mandi-mandi dan istirahat serta sarapan . Nah daerah kostnya ini tiap pagi ada pasar dadakan.Ada satu pedagang yang menggelitik mata untuk aku tuangkan ke dalam blogku ini.

Pedagang kue rangin yang sudah mulai jarang ditemukan.Adanya hanya di piggiran kota Jakarta. Kue rangin merupakan kue tradisional Jakarta yang sudah mulai agak langka. Kemarin saat liburan di daerah Utan Kayu JakTim , aku menemukan pedagang kue rangin ini. seorang bapak dengan usia hampir separo abad menjajakan kue rangin dari kampung ke kampung dengan gerobak dorongnya.

Peralatannya pun sangat sederhana hanya dengan menggunakan kaleng bekas yag dilubangi bagian atasnya untuk menaruh cetakan dan diberi lubang bagian pinggir sebagi tungku.

Kue rangin merupakan jajanan trdisional yang terbuat dari tepung kanji dicampur dengan kelapa parut, dan garam. Diaduk dicampur jadi satu kemudian dicetak memakai cetakan kue rangin yang bentuknya seperti cetakan kue pukis namun cekungannnya di sini lebih kecil dan kurang dalam.

Setelah cetakan dioles dengan minyak memakai kuas terbuat dari sabut kelapa, kemudian masukkan campuran tepung tapioka dan parutan kelapa ke dalam cetakan bila sudah panas. Tutup tunggu setengah matang, buka tutupnya kemudian dioles dengan gula merah.(kata si penjualnya jaman dulu memakai gula aren jadi kuenya jadi lebih harum namun sekarang hanya memakai gula merah yang dicampur dengan gula pasir agar lebih manis. )Tutup kembali dan tunggu sampai matang.
Kalau sudah matang tinggal diangkat menggunakan seperti tusukan dari jeruji sepeda kemudian dibalik.jadi satu jadi deh kue ranginnya.

Harga kue rangin ini untuk satu cetakan   Rp 2500,00. Murah bukan dan cukuplah buat pengganjal perut gendutku ini di pagi hari.

Kata si bapak penjual di Jakarta, penjual kue rangin hanya dari kalangan kaum tua saja. Kaum muda sudah jarang mau melakukannya karena mereka lebih baik menjadi buruh pabrik atau mengadu nasib sebagai pembantu atau tukang bangunan.

Aku hanya tersenyum mendengar celotehannya di pasar dadakan pagi di daerah Utan Kayu belakang Mess Bengkulu, belakangnya jalan Nangka, daerah kostnya suami.

Hmmmm...mencium bau harum kue rangin ini ingin segera memluknya pulang ke kost suami dan ingin segera memindahkannya ke dalam mulut ditemani secangkir kopi atau secangkir teh hangat.
Mencetk kue rangin

memberi olesan minyak pada cetakan dengan sabut kelapa

Buka Tutup untuk memberi lapisan gula merah

No comments:

Post a Comment