Festival Tantular 2017, 'Menelusuri Kebesaran Sejarah Jawa Timur Melalui Keanekaragaman Wayang'







Hari ini pembukaan Festival  Tantular 2017  di Sidoarjo Jawa Timur, kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka HUT Museum Mpu Tantular yang ke-43. Tujuan diadakan festival ini untuk menarik minat pengunjung agar mau berkunjung ke Museum dan mengenalkan kebudayaan Indonesia. Tema festival Tantular tahun ini adalah Menelusuri kebesaran Sejarah Jawa Timur melalui keanekaragaman Wayang.Festival Tantular diselenggarakan dari tanggal 19-21 Okober 2017. Selama Festival ini tiket masuk dan  parkir ke Museum Mpu Tantular digratiskan alias free, silakan masuk tanpa bayar sepeser pun. Tapi jangan lupa untuk bawa air putih buat minum ya, cuaca yang panas dan tempat penyelenggaraan pameran wayang potehi maupun wayang Thengul sangat panas. Karena tempatnya berada di pelataran museum Mpu Tantular, yang  dipasangi terop.

Saya mendapat info Festival  Tantular, dari Mbak Yuni.Begitu diberitahu langsung cus ke TKP, kebetulan lokasinya berada di Sidoarjo, dimana aku tinggal. hanya membutuhkan kurang lebih 15 mbit naik motor dari rumah. Saya tertarik untu melihat pentas wayang potehi dan wayang thengul. Baru kali ini saya melihat pentas wayang potehi maupun wayang thengul. Wayang Potehi merupakan wayang berasal dari negeri Tiongkok. Pou berarti kain,Te berarti kantong, dan Hi berarti wayang.

Ketika saya datang halaman museum sudah penuh dengan anak-anak sekolah, sepertinya mereka akan mengikuti berbagai lomba seperti mewarnai wayang gunungan bagi anak SD/MI, membuat wayang kardus dan menikmati sajian pegelaran wayang potehi serta Thengul. Sambil menunggu temannya ikut lomba, ada yang menikmati permainan tradisional bakiak serta egrang bahkan ada yag mencoba naik sepeda aman dulu. Dengan ban besar di depan serta kecil di bagian belakang dan tinggi serta memakai pedal doltrap.Untuk mengendarai sepedaini ternyata perlu perjuangan untuk naik dan mengayuhnya. Tadi ada beberapa anak yang dibantu temannya untuk naik, begitu dikayuh langsung jatuh.








Sebelum pentas wayang potehi,ada lomba membuat wayang dari kardus. Peserta mewarnai tokoh wayang Semar dengan krayon yang sudah disediakan oleh panitia. Lalu gambarnya digunting dan tangannnya dihubungkan dengan benang dan ditempatkan pada sebilah bambu kecil untuk memegang.

Mereka antusias mewarnai dan membuat wayang dari kardus, kalau menang mendapatkan hadiah dari panitia, mereka juga belajar karakter wayang. Samil ikut lomba, mereka menikmati pentas wayang Potehi dengan lakon " Kera Sakti" dipilihnya lakon ini karena ini yang sudah pernah ditayangkan di televisi. Wayang dijalankan di sebuah panggung kecil kira-kira berukuran 1,5 meter dan didominasi berwarna merah.

Di kesempatan ini saya juga diajarkan cara memegang wayang poehi oleh dalang lho. Tangan saya masih kaku ketika memainkannya. Seperti memainkan boneka tangan.
Belajar memainkan wayang potehi

Datang di festival Tantular ini saya jadi tahu ada beberapa ragam wayang selain wayang kulit.  Selain itu, tadi saya melihat pentas wayang thengul yang dengan lakon : " Damarwulan Ngarit" dalang Jasmani Mujiatmoko berasal dari Bojonegoro. Wayang thengul biasanya mengambil cerita legenda seperti cerita tentang kerajaan Majapahit.
Wayang Thengul
Pementasannya diirigi dengan gamelan, waranggono dan sinden. Wayangnya juga terbuat dari kayu dan kain. Biasanya yang digunakan dari kayu yang lnak agar mudah diukir. Seperti kayu waru dan kayu mahoni.

Tuh kan nggak sia-sia saya datang ke festival ini, selain menambah pengetahuan tentang wayang yang sudah hampir hilang ditenggelamkan jaman. Namun dengan diadakannya festival Tantular ini saya jadi mengenal beranekaragaman wayang di Indonesia.

2 comments: