Ketika Menua Nanti

 


Ketika senggang selepas dengan urusan kompor dan kain pel. Selain baca novel, nonton drakor, sirami tanaman. Saya sering ngintip status WA. Tetiba beberapa hari lalu, ada status suami di seberang lautan bikin puisi di atas.

Mau ngakak atau bangga ya. Yang terjadi justru Saya ngakak guling-guling. Karena kebiasaan ini seakan meghilang selpas pernikahan kami.  Baca puisinya jadi ngakak dan terlempar awal pertemuan dulu di Ambon.

Awal kenal selalu kirim puisi - puisi romantis menurutku. Namun setelah menikah, keromantisannya menghilang seiring digerus dengan padatnya pekerjaan demi mencukupi kebutuhan.

Makanya, ketika Beliau bikin status puisi, diriku senyum weleh tumben romantis e kumat, alhamdulillah. Padahal hobi ini ditinggalkanKetika berkeluarga dan punya anak, setiap ada waktu senggang Saya komporin untuk menulis, selalu menjawab, "Wis menua , mending waktu senggang buat ngegame ngademke pikiran."

Welcome to realita Tit. Ahahahaha, dulunya romantis dan bagai truk gandengan seiring bertambah umurnya usia perkawinan. Yo wislah begitu saja, menerima apa adanya danmulai berkompromi. Bagiku sebuah perkawinan bukan hanya menuntut, tapi bagaimana berkompromi, toleransi dan mengalah demi satu kebahagiaan. 

Nah lanjut dengan status puisi di atas, gambar puisi diambil saat beliau pulang dari dinas Di Masohi. Dengan padatnya kerjaan dan belum bisa pulang, beliau cerita ke diriku. Kangen berpuisi lagi dan jadilah puisi di atas. Begitu di upload di status WA beberapa teman katanya mulai komentar dan gojlogi beliau buat lucu -lucuan saja. 

 Saya pun akhirnya berbalas puisi karena seneng aja, jiwa menulisnya muncul lagi. Inilah balasan puisiku ;


Senja semakin temaram dan langit pun gelap

Hanya setitik lampu kapal digoyang ombak

Laksana goyangan kehidupan saat usia senja

Sepasang camar bercengkerama di pantai

Bagai sepasang orang tua renta  duduk bercerita

Sambil menikmati hari akhirnya

Saat menulis balasan ini, bayangan Saya ketika menua nanti yang Saya perlukan teman cerita. Seseorang yang mau menerima dan mendengarkan cerita harian Saya. Sambil menikmati kopi, menikmati sisa umur melihat kelucuan anak turun kami. Menikmati masa tua dengan berkebun . Semoga Allah mengabulkan.

Seiring bertambahnya usia perkawinan kami, semoga semakin nyaman dan tentram, mengalah bukan untuk menang, mengalah demi ketentraman dan tak ada keributan.

Kalau pun ribut cukup diselesaikan di kamar tanpa terlihat oleh anak-anak. Sedih dan air mataku akan Saya bawa di setiap tahajudku. Di depan anak-anak Saya ingin tetap ceria.

Bertambahnya umur semoga semakin akur

Tak ada lagi goyangan bahtera

Yang ada hanya labuhan jiwa

Jiwa bersama saling menguatkan, mendukung dalam meraih keberkahan

Saling mendukung untuk tabungan akhirat

Saling mengingatkan dengan candaan bukan lemparan ember

Lebih baik melempar puisi dan menikmati sisa umur dengan berjalan dan bergandengan tangan menuju rumah Illahi

 

Sidoarjo, 25 Nop 2021

Ku tulis di bis sambil mengisi waktu keberangkatan.



Previous
Next Post »

5 comments

Click here for comments
Anisa AE
admin
25 November 2021 at 10:33 ×

Wih kata-katanya bikin tersentuh, manis juga. Saat-saat tua itu saat paling menenangkan dalam hidup.

Reply
avatar
Dyah
admin
25 November 2021 at 10:35 ×

Jadi membayangkan hari tua di mana akan jadi orang paling sentimental dan cukup duduk menikmati dunia.

Reply
avatar
Neny
admin
25 November 2021 at 10:37 ×

Tentram banget kalau bayangin hari tua, tetapi jalanin hari ini aja belum tentu hari tuanya semenenangkan itu.

Reply
avatar
Novi
admin
25 November 2021 at 10:39 ×

Hari yang paling dinanti adalah hari di mana melihat semua anggota keluarga bahagia. Sesederhana itu menua.

Reply
avatar
Neneng
admin
25 November 2021 at 10:40 ×

Membayangkan menua pasti jatuh kepada kebebasan dan tercapainya semua harapan, jadi ingat harus berusaha keras sekarang untuk mendapatkan hari esok yang lebih baik.

Reply
avatar