Berkah Silaturahmi Dengan Mbah Djoko Soemarjanto

 

Silahturahmi dengan Mbah Djoko Sumarjanto


"Silahturahmi itu akan memperkaya sudut pandang dan meluaskan pikiran serta akan memperluas rejeki"

Malam ini HP ku berdering, dengan profil mobil jeep warna merah. Ternyata dari Mbah Joko.
Mbah Joko berusia 60 tahunan, ditilik dari usia sepantasnya layak dipanggil Om karena perpautan usiaku dengan beliau. Namun dari garis keturunan, Aku memanggilnya Mbah. 

Dari tarikan pohon keturunan keluarga, beliau Om Bapak. Karena Bapak dari Mbah Joko, adalah adik dari Nenek buyutku.

Selasa yang indah karena terjalinnya silahturahmi kembali setelah pertemuan terakhir di saat pernikahanku di tahun 1995.
Tahun 1995, beliau datang dengan istri dan putri pertamanya  di pernikahanku di Solo.
Padahal rumah beliau di Jakarta, mau meluangkan waktu di sela kesibukannya, untuk hadir di pernikahanku merupakan nilai plus dari sisi silahturahmi buatku.




Sebenarnya malam ini, beliau ingin ke rumahku. Tapi mosok tho ya, orang yang lebih tua nyamperin ke yang muda. Makanya Aku tawarkan untuk menemui beliau di hotel Luminor di mana beliau menginap. Lagian tempat penginapannya tak jauh dari rumah. Hanya butuh 10 menit perjalanan naik motor.

Aku ajak bungsuku Lantip, agar lebih mengenal saudaranya. Pertemuanku di Cafe and restaurant di sebelah kiri lobby hotel. Saat jam makan malam pula, alhamdulillah rejeki makan malam. Walau sebenarnya Aku dan anakku baru saja makan jam 5 sore.

Ketika Aku bertemu dengan Mbah Joko, di meja sudah terhidang kentang goreng dan singkong keju. Beliau menyuruhku pesan makanan dan minuman.
Ku pesan latte coffee dan anakku cappucino serta sop buntut. 

Sambil menunggu pesanan, Saya berbincang sambil nyemil singkong keju. Ketika singkong berpadu dengan lidah, ternyata singkong goreng masih terasa dingin. Sepertinya baru keluar dari frezeer langsung digoreng. Ku lanjutkan mengunyah sambil menambahkan satu sendok singkong sambil dioles parutan keju dan masuk ke mulut. Ah ternyata perpaduan antara singkong dan parutan keju ada sensasi gurihnya. Rasa dingin bagian dalam singkong tersamarkan dengan rasa keju.




Sop buntut luminor Sidoarjo

Baru beberapa kunyahan, hidangan sop buntut dan coffee latte ku datang. Aku seruput kuah sopnya, rasa rempah cengkeh dan pala mendominasi, membuat hangat tenggorokanku. Daging buntutnya cukup empuk dan muprul ketika mau disendok. Menandakan presto dari buntutnya pas. Alhamdulillah puji syukur Aku ucapkan untuk nikmat semangkuk sop buntut, yang mengenyangkan perutku malam ini.
Duh maaf jadi bahas makanan, karena setiap pertemuan selalu ada jamuan.Baiklah Aku lanjutkan berkah silahturahmiku lagi ya.

Mbah Joko, pribadi berjiwa sosial tinggi, ringan tangan dan humble.
Ketika mau bertemu beliau ada perasaan minder, tapi perasaan itu ku tepis ketika langsung bertemu muka dengan beliau.
Berkah silahturahmi dengan Mbah Djoko Soemarjanto


25 tahun tak bertemu  ketika bertemu ada rasa bahagia dan haru, sosoknya yang humble tak berubah. Diriku langsung teringat almarhum Bapak. Puzzle - puzzle kecil menari dan berkelabat di kepala. Membuat satu rangkaian memori masa kecilku dengan Bapak, ketika diajak ke rumah beliau di Sutogunan Solo. Ah Bapak  aku kangen denganmu, melihat Mbah Joko mengingatkanku padamu, yang suka silahturahmi ke saudara - saudara dan selalu ada cerita di setiap pertemuanmu. Ketika Mbah Joko tersenyum, Aku ingat senyuman dan tertawa lepasmu Pak, ketika kau berikan jokes dan guyonan receh untuk memecahkan suasana.

Malam ini ada beberapa hal yang Aku dapatkan dari pertemuan dengan Mbah Joko. Salah satunya ketika tanpa sadar aku keceplosan, " Mbah, sebenarnya Saya agak minder lho kalau kepanggih keluarga Bapak. Semua high class dan berhasil dengan ukuran standar orang dewasa."

" Nduk, kita ini keluarga, jangan begitu. Keluarga itu adalah satu. Nggak ada high class and low class. Jangan minder, semua keluarga pasti punya masalah masing- masing.  Dan ukuran sukses itu di setiap keluarga juga beda-beda."

Hatiku pun mencelos dan bagai kena sedikit tabuhan di hati.
Benar juga, buat apa minder. Makan juga sama nasinya, cuma mungkin lauk dan sayurnya yang beda hehehe...
Cara penyajiannya di meja juga mungkin beda. Begitu pun standar sukses seseorang itu bagai lauk dan sayur yang perlu proses panjang ketika akan dihidangkan di meja.

Yang kedua dalam hal menerima atau istilah Jawanya nerima ing pandum. Proses menerima itu juga panjang dan lama lho. Kata beliau, apa seperti beliau itu juga nggak punya masalah ? Ada dong, tapi bagaimana memgemas dan menerima masalah itu dengan penuh keikhlasan? Beliau cerita kedua putrinya sekolah tinggi semua dan sekolah di luar negeri, tapi sampai sekarang belum punya jodoh. Tapi beliau santai saja dengan hal itu. Karena standar putrinya berbeda dengannya. Maka tinggal lepas dan enjoy saja, istilahnya ra sah dipikir spaneng. Ahahahaha...kok dadi eling lagu dangdut ya.

Selain itu ada obrolan tentang dunia kreativitas. Beliau berusaha mbombong atiku ini dengan kalimat " Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Seperti dirimu Nduk, punya kecakapan dalam menulis, atau anakmu punya kecakapan editing atau bikin scoring musik.Tak semua orang bisa lho, tinggal kamu perdalam kreativitasmu. Jangan pernah minder ya, berjuang terus . Kalau kamu minder itu ibaratnya kalah sebelum perang."

Kalimat-kalimat yang diucapkan Mbah Joko malam ini, membuatku serasa mendapat angin segar di padang tandus. Alias menyegarkan dan meluaskan pikiranku yang selama ini sempit. Dengan gaya guyon tapi bicaranya mengena di hati. Hal inilah yang selalu ku suka dari bentuk silahturahmi.

Mbah Joko, yang ringan tangan dan senang anjangsana ini ternyata mempunyai satu wasiat dari Ibu beliau, agar mengumpulkan keluarga Gito Wisarjo Dan Hadi Sutanto. Dan amanat itu sudah terlaksana sekitar tahun 2004, bisa mengumpulkan  sekitar 60 orang di Jatiwaringin Jakarta. Hingga sampai saat ini, ngumpul alias nglumpukke balung pisah, akhirnya jadi tradisi di keluarga besar kami setiap hari ke-2 lebaran. Namun semuanya terhenti karena corona. Dan hanya lewat zoom aja.

 Di setiap akhir pertemuan, Aku selalu minta resep sehat serta awet muda dong ya. Salah satunya tetap rajin olah raga walau sekedar jogging, selalu berpikir positip. Nasehat beliau ke diriku maupun anakku, luangkan waktumu buat orang tuamu walau itu sekedar vidcall, itu sudah memberikan kehangatan untuk orang tuamu. Kadang orang tua kangen, tapi anak nggak kangen. Jangan lupa nikmati sehatmu sebelum sakitmu. Ketika sehat, perbanyak syukur

Tak terasa, percakapan kami hampir 2 jam berlalu, dan Aku pun pamit  pulang, memberi kesempatan Mbah Joko untuk istirahat.Semoga kami bisa bertemu kembali dengan wejangan indah diiringi secangkir kopi atau teh hangat . Sehangat kalbu ini ketika menjalin silahturahmi. Salam hormat dan takzim buat Mbah Joko. Semoga beliau selalu diberi kesehatan, kemurahan rejeki. Dan kami yang muda ini bisa meneladani sisi baik dari beliau.



Sidoarjo, 15  Maret 2022.

1 comment:

  1. Wah berkesan banget acara kayak gini, memang silatuhrami selalu membuahkan hikmah yang luar biasa dan menjadi momen yang indah.

    ReplyDelete